Lady : A Rarity

Seksis. Mungkin tulisan gw berikut ini bisa dibilang seksis.

Beberapa kali di tempat dan kesempatan yang berbeda setiap kali ketemu dengan perempuan yg lagi nongkrong, ga tau kenapa kesannya… urakan? Kalo gw ga boleh bilang slutty ya.

“Buset! Mangnya mereka ngapain, ndol? Sampe lo bisa ngomong kayak gitu?”

Beberapa yg gw amatin seperti:

—Tidur2an di pangkuan cowok di depan umum.

—Ketawa-ketiwi terbahak-bahak dengan suara lantang gegap gempita.

—Garuk-garuk toket di depan umum, di hadapan temen2 cowoknya.

—Duduk bersila di sofa layaknya preman nongkrong di warteg.

“Ya elaaah… Gitu doang? Itu udah biasa kali, ndol. Apalagi kan kita di Jakarta. Kota metropolis gitu loh.”

Iya. Di kota besar nan modern macam Jakarta ini, boundaries layak tidak layak, sopan tidak sopan antar gender emang makin bias. Yang dulu dipersepsi tidak sepantasnya dilakukan, sekarang cenderung lebih dimaklumi.

Gw personally lebih respek dan kagum sama perempuan.. rephrase, wanita yang bisa membawa dirinya secara pas dengan situasi dan kondisi dia berada. Hal itu berlaku dalam segala aspek. Ya baju, ya pembawaan, ya tingkah laku dan sebagainya.

“Seksis!! Itu sama aja lo bilang kalo cewek ga boleh begini begitu dong? Ga boleh jadi dirinya sendiri dong??? ”

In a way, mungkin iya. Kalo misalnya diliat dr sudut preferensi admiration towards women, mungkin juga engga. Kayak misalnya lo bawa calon bini lo ketemu sama orang tua lo, ekspektasi ortu lo pasti cewek yg lo bawa kudu punya personality yg menarik, pinter dan charming. Which hal yg berlaku sebaliknya. At some point, ada tata krama dan image yg harus dibangun dan dijaga. Hal itu ga mungkin dihindarin kan?

Lah kita kalo first date aja, pasti agak-agak jaim kan?

“Biarin aja lah. Kan lo ga kenal sama siapapun yg bikin lo punya pemikiran kek gini.”

True. Tapi, you’ll never know kan? Kalo ternyata suatu hari lo bertemu dengan orang itu, orang yg pernah lo liat di random place at random time, yg menurut lo first impressionnya ga baik, ga punya tata krama and so on… Akhirnya pada saat lo bertemu dan berkenalan secara resmi, first impression orang itu akan nempel di benak lo.

“Ah belum tentu inget juga kali. Jutaan manusia di Jakarta gini. Kali deh lo bakal nginget satu-satu.”

True. Tapi, when it comes to that, I’d rather not to take risk.

Siapa tau lo lagi di club, rada kobam trus lo gelayutan sama cowok random. Tiba2 next week nya, lo ketemu orang itu dalam sebuah janji interview dan di adalah calon user lo. Awkward…..

When you raised in a family that upholds manners and gestures, hal remeh sekalipun akan jadi point bagus-engga nya seseorang di mata lo. Subconsciously, lo akhirnya meng-create standard lo sendiri terhadap siapa orang-orang yg ada dalam circle lo.

Which in result, perhaps, hal itu lah yang akhirnya menciptakan kelas-kelas sosial di tatanan masyarakat kita. Bahkan untuk the so-called A-list society.

Everyday, we wear masks. Like it or not. The only place where we can be ourselves to the fullest is in our bedroom or bathroom

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s