To be or taboo

Konsep hubungan 2 manusia yg tradisional adalah hubungan antara cowok dan cewek yang saling mencintai.
Semakin kesini, konsep tradisional itu dapet embel-embel konservatif. Karena sekarang konsep hubungan ada yg lebih progresif: 2 manusia yg saling mencintai. Regardless apapun jenis kelaminnya. Apalagi semenjak #lovewins bertengger di trending topic Twitter setelah Amerika akhirnya melegalkan pernikahan sejenis di seluruh 50 negara bagiannya.

Tinggalin dulu deh urusan #lovewins. Gw pengen masuk ke traditional values sebuah relationship: seia-sekata, sehidup-semati, setia sepanjang hayat, 1-on-1, monogami dan seterusnya.
Nilai-nilai itu yg gw percaya sampe hari ini dan masih berlaku buat sebagian besar orang di dunia ini.

Tapi, layaknya dulu sebuah keluarga dikatakan normal dan sehat kalo ada bapak-ibu dan anak-anaknya.
Sekarang, single mom / single dad udah bisa dianggap sebagai satu kesatuan keluarga. Sekumpulan orang yang tinggal di satu tempat ya dah bisa disebut ‘keluarga’.

Sekarang, nilai kenormalan suatu relationship, akhirnya bergeser. Tapi, siapa sih yg mendefinisikan suatu relationship itu normal dan sehat? Norma? Habit? Kultur? Banyak jawabannya. Tapi, menurut gw ga ada jawaban yang bener-bener sahih.

Open relationship adalah salah satu bentuk relationship yang belakangan ini mulai banyak gw temuin. Konsep secara kasarnya mungkin ibarat teh botol. Isi boleh kemana-mana yang penting botol kembali.

Aneh? Gila? Absurd? Anomali? Unacceptable? Terserah lah. Tapi, fakta yang ada memang seperti itu. Bahkan beberapa open relationship yang gw temuin bisa sampe sejauh having sex bareng dengan orang ketiga, keempat, kelima and so on.
“ah itu pasti kebanyakan pasangan LGBT deh!”
You might be surprise to know, ga semua adalah pasangan LGBT. Kalo kita berpikir bahwa itu hanya terjadi di kalangan LGBT, we have that stereotypical mind-set already. Yang heteroseksual juga banyak.
Gw kira dulu swingers couple cuman ada di luar negri. Little did I know, di Indonesia banyak. Bahkan ada komunitasnya.

“Kenapa sampe segitunya sih?”
Bosen, butuh variasi, supaya tahan lama hubungannya and so on.

Daripada selingkuh mendingan pacar/suami/istri gw ajak main bareng.

Iya. Ada yang sampe segitunya. Beberapa pasangan ada yg setuju dan pasti ada yg ga setuju. Yg setuju, iya berjalan terus sampe hitungan tahun and keep on counting. Bahkan sampe kalo perlu hunting bareng untuk cari pihak ketiganya. Yg gak setuju, ya bubar.

Gw masih dalam tahap mencoba memahami konsep ini. Gw ga bilang bahwa gw ga setuju. Tapi, gw juga ga menampik fakta yg ada bahwa some works well.

Awalnya sakit hati. Tapi, it is acceptable by time.

Ya sebel sih. Tapi, daripada gw cari orang baru dan memulai proses adaptasi itu dari awal lagi? Capek gw.

Karena gw tau pasangan gw ga mungkin setia.

Karena yang punya surat resmi nikah aja bisa cerai karena selingkuh kok. Ngapain repot.

Beberapa alasan yg gw temuin kenapa akhirnya mereka setuju dengan konsep open relationship. Kemudian gw mikir, kenapa dari awal mereka memulai hubungan itu sih? Karena cinta? Trus seiring waktu jadi #lovefades? Karena males adaptasi dan bosen dengan hubungan yg jadinya monoton, kemudian mereka nyari variasi in terms of sex?

ya itung-itung sekalian networking lah.

Dan semakin ga paham lah gw.

Iya di dunia hewan, hubungan sejenis, gonta-ganti pasangan merupakan hal yang bisa kejadian. Iya, manusia juga masih termasuk spesies hewan. Cuman karena eksistensi dan tingkat intelegensi kita aja yang membuat keberadaan kita berbeda dengan hewan. Hewan is hewan. Manusia is manusia.

Tapi, kalo emang kita punya level intelegensi yg katakanlah lebih intelek, kenapa kita justru malah ga bisa nahan naluri alamiah kita untuk orgasme setiap kali kita ngeliat orang yg secara fisik menarik?
Karena pengen nyicip aja? For me it sounds so shallow.

Personally, I could never enjoy sex without feelings involved. Been there done that.

Kok lo riweh banget sih sampe nulis beginian, pasangan gw aja ga ribet kok kita open relationship. Ya itu kita, elo ya elo. Kalo lo ga suka ya udah sih.

Gw sama sekali ga menyalahkan. Justru tadi gw bilang, gw lagi mencoba memahami, kenapa ada konsep itu dari awal. Walaupun dengan berbagai macam alasan yg udah gw denger, gw tetep ga bisa paham.

Gw tau konsep bahwa seiring waktu yang namanya hubungan apapun pasti akan ada rasa bosen. Ada rasa enek karena ngeliat orang yang sama berulang kali, setiap hari. Ada momen dimana having sex jadi terasa hambar dan ga se-fun saat pertama dulu.

Bosen. Benci. Kesel. It comes in one package with that love you share with someone else.
Bukannya kita harusnya udah siap dengan itu semua saat kita memutuskan jalan bareng dengan seseorang?

Mungkin bisa jadi emang gw yg kelewat kolot dan konservatif untuk urusan begini.

Then again why open relationship in the first place?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s