Sahur on The Road : Ibadah atau Eksistensi

Gue selalu suka kalo bulan Ramadhan tiba. Walaupun gue Katolik, tapi gue sangat menikmati suasana Ramadhan.

Suasana sahur bersama, buka puasa bersama, ragam tajil yang ada, silaturahmi dan masih banyak lagi.

Tapi, gue gak suka sama Ramadhan taun ini. Setidaknya gue gak suka dengan kegiatan Sahur on The Road yang ada sekarang ini. Beberapa malam lalu, gue terjebak kemacetan di sekitaran Sudirman-Thamrin pada jam 1 pagi. Kenapa? Karena banyak rombongon konvoi dari berbagai macam kelompok sedang bikin Sahur on The Road.

Seperti yang sudah diduga, aksi penutupan jalan, menahan traffic, pelanggaran peraturan lalu lintas, pasti terjadi dan banyak.

Yang pengen gue komplain adalah cara mereka melakukan Sahur on The Road tersebut. Gak ada salahnya memang dengan membagikan sahur kepada kaum papa. Sama sekali engga, gue malah mendukung. Cuman kalo cara tersebut kemudian mengorbankan kepentingan umum, gue jadi ga respek lagi.

Mereka berbondong-bondong naik mobil dan motor, berhenti seenaknya, markir mobil dan motor seenaknya…seakan jalanan malam itu menjadi milik mereka.

Prinsip gue dalam beribadah adalah privasi. Saat gue beribadah, gue memberikan waktu gue untuk Tuhan. Gue memusatkan perhatian gue pada Tuhan. Pada saat beribadah, jika gue berbuat baik, gue gak mau menunjukkan perbuatan baik itu ke siapapun. Karena gue tidak membutuhkan apresiasi dan gue tidak mau menjadi contoh bagi komunitas sekitar gue. Lho kenapa gak mau menjadi contoh? Karena gue manusia biasa, gue gak sempurna. Gak pantes cara beribadah gue dicontoh orang-orang. Biarlah Tuhan yang menilai.

Gue berpikir, bukankah masih banyak kaum papa yang lebih membutuhkan ya? Kaum papa yang mungkin tinggal di pinggiran, di kolong jembatan, di tempat penampungan sampah. Kenapa harus berpusat di tengah kota?

Trus kenapa harus harus rame-rame ya? Harus banget pake nyoret-nyoret fasilitas publik pake pylox? Harus banget berhenti pinggir jalan untuk foto-foto trus diupload di Path? Bangga karena lo udah ikutan Sahur on The Road?

Ada beberapa komunitas yang gue yakin mereka adalah mahasiswa, dengan mobil dan motor yang mentereng serta gaya yang hits tentunya. Dan mereka juga melakukan hal yang sama.

Baik yang mampu dan super mampu secara ekonomi, mereka semua yang gue yakin adalah kalangan yang berpendidikan malah berperilaku yang sama sekali tidak tertib dan mengindahkan peraturan.

Sahur on The Road yang awalnya adalah bentuk kegiatan sosial, sekarang gak ubahnya jadi kegiatan eksistensi untuk ditaruh di social media. Udah lupain deh ama yang namanya ibadah. Sorry kalo gue sinis, percuma lo ngaku ibadah dan berkegiatan sosial kalo selama lo ber-Sahur on The Road itu lo ngelanggar peraturan lalu lintas, buang sampah sembarangan dan ganggu ketertiban umum.

Untungnya, ga ada temen-temen gue yang ikutan kegiatan kayak gitu. Kalopun ada, gue lebih baik gak temenan ama dia. Picik? Iya…memang. Tapi, gue tau temen-temen gue. Gue yakin temen-temen gue semuanya berpendidikan dan ngerti cara yang lebih proper beribadah dan berkegiatan sosial.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s